Selasa, 12 Desember 2017      
 

Artikel

Quantum Teaching
Post by Setiyo Budi Drs.

Tulisan ini, hasil keikutsertaan penulis mengikuti Seminar Quantum Teaching Tahap II, pada tanggal 5 Februari 2002, masih bersama Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng M.Pd, guru besar Universitas Negeri Malang, sebagai kelanjutan tulisan terdahulu sebagaimana termuat dalam " GAPURA ", edisi 21 Januari 2002

PENDAHULUAN

Kita telah memasuki abad ke-21, suatu era yang ditandai oleh perubahan-perubahan yang berjalan begitu cepat dan sering kali berupa lompatan-lompatan yang tidak lagi bisa dikatakan linear. Suatu era dengan spesifikasi tuntutan yang ternyata juga sangat besar pengaruhnya terhadap dunia pendidikan dan pembelajaran.

Perubahan-perubahan yang terjadi selain karena perkembangan teknologi yang sangat pesat juga diakibatkan oleh perkembangan yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan, psikologi, dan tranformasi nilai-nilai budaya. Dampaknya antara lain, adalah perubahan pola pikir dan cara pandang manusia terhadap manusia, cara pandang pendidikan, perubahan orang tua / guru / dosen serta pola hubungan antar manusia.

Menyongsong era baru ini, pendidikan tidak lagi dilihat sebagai upaya untuk menyiapkan anak untuk memasuki masa depan, tetapi sebagai proses agar seseorang bisa " hidup " kapan pun, dimana pun, dan dalam situasi apa pun. Perubahan ini sebenarnya disebabkan karena adanya tuntutan perubahan arah dan pola tujuan pendidikan serta strategi untuk mencapainya. Oleh karena itu, tujuan terpenting dari pendidikan adalah mengembangkan kemampuan mental yang memungkinkan seseorang dapat belajar. Jadi, belajar itu sendirilah yang menjadi tujuan pendidikan, bukan semata-mata pada hasil belajarnya

LANDASAN PENDIDIKAN

Asumsi asumsi yang melandasi program-program pendidikan seringkali tidak sejalan dengan hakekat belajar, dan hakekat orang mengajar. Dunia pendidikan , lebih khusus dunia belajar, hanya didekati dengan paradigma yang tidak mampu menggambarkan hakekat belajar dan pembelajaran secara komprehensif.

Pendidikan / pembelajaran yang menggunakan teori Behavioristik umpamanya, sangat mengagungkan pembentukan perilaku keteraturan, ketertiban, ketaatan dan kepastian. Pembentukan perilaku ini dilakukan dengan kebijakan penyeragaman berbagai hal disekolah - misalnya penggunaa pakaian seragam, penggunaan kurikulum yang seragam, penggunaan buku diktat yang seragama, penggunaan strategi evaluasi yang seragam , sampai dengan penyeragaman warna kaos kaki dll . Semua bentuk penyeragaman ini, ternyata telah berhasil membentuk anak-anak sangat menghargai kesamaan, dan tanpa sadar pula ternyata telah berhasil membentuk anak-anak Indonesia mengabaikan penghargaan pada keragaman. Anak-anak sangat sulit menghargai perbedaan. Perilaku berbeda lebih dilihat sebagai kesalahan yang harus dihukum.

Pendekatan sistem, sebagai suatu pendekatan yang secara keseluruhan berangkat dari preskripsi Behavioristik, yang secara luas dipakai untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan/pembelajaran/belajar, yang kini keampuhannya mulai diragukan. Pendekatan dengan sistem ini memang sangat ampuh untuk era keteraturan. Tetapi begitu diterapkan di era perubahan global, yang diwarnai dengan ketidak menentuan, ketidak pastian maka yang muncul adalah kegagalan yang susul menyusul.

Dunia pendidikan kita ternyata juga menunjukkan kecenderungan serupa. Hal ini disebabkan karena teori dan sistem yang diterapkan guna menganalisis persoalan pendidikan yang mengagungkan paradigma keseragaman dan keteraturan , ternyata hanya bisa membelajarkan siswa untuk menghargai " kesamaan " (yang faktualnya berbeda ) serta mengabaikan keragaman / perbedaan yang pada hakekatnya memang benar-benar berbeda.

Berbagai bentuk kekerasan yang terjadi kahir-akhir ini merupakan akumulasi dari format pengabaian keragaman yang paling nyata. Menyimak sistim kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang akhir-akhir ini dilanda kekacauan, ditengarai bermula dari apa yang dihasilkan dari dunia pendidikan. Dunia pendidikan yang sebenarnya paling besar memberikan kontribusi terhadap kekacauan ini. Siswa (baca : anak-anak bangsa) yang telah melampaui sistim pendidikan kita, mulai dari pendidikan yang didapatkan anak-anak dari lingkungan keluarga, lingkungan sekitar/masyarakat, maupun yang diperoleh dari sekolah, kurang memiliki kemampuan untuk mengelola kekacauan, akibatnya anak-anak bangsa selalu menjadi korban kekacauan. Memang persoalannya komplek. Tapi, marilah benang kusut ini kita urai dari tempat kita ‘ berdiri ‘ : pendidikan.

Kita perlu mengkaji ulang, mereformasi, redifinisi, dan reorientasi terhadap landasan teori dan konseptual belajar, yang lebih mampu menumbuhkembangkan anak-anak untuk lebih menghargai keragaman. Apakah desentralisasi pendidikan, lebih khusus lagi demokratisasi pembelajaran, dapat menjadi jawaban ?
 

TEORI BEHAVIORISTIK VS TEORI KONSTRUKTIVISTIK.

Dua aliran psikologi yang sangat mempengaruhi perkembangan teori dan praktek pendidikan dewasa ini adalah aliran behavioristik dan konstruktivistik. Aliran behavioristik, menekankan pada terbentuknya perilaku yang nampak sebagi hasil belajar. Sedang, aliran konstruktivistik lebih menekankan pada pembentukan perilaku internal yang sangat mempengaruhi perilaku yang nampak tersebut..

Teori Behavioristik dengan model hubungan Stimulus-Respon ( S-R), mendudukan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon ( perilaku tertentu ) dapat dibentuk karena dikondisi dengan cara tertentu menggunakan metode ‘drill’ ( pembiasaaan ) semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan ‘reinforcement’ dan akan menghilang bila akan dikenai hukuman. Hubungan S-R, individu pasif, perilaku yang nampak, ’reinforcement’, dan hukuman, merupakan unur-unsur penting pada teori behavioristik. Teori ini sedang merajai praktek pembelajaran hingga sekarang.

Aliran Konstruktivistik, berupaya mendiskripsikan apa yang terjadi dalam diri seseorang ketika ia sedang belajar. Teori ini lebih menaruh perhatian pada peristiwa-peristiwa internal. Belajar, terjadi karena karsa individu. Oleh karenanya, karsa individu menjadi unsur penting dari teori ini. Kini, teori ini diakui memiliki kekuatan yang dapat melengkapi kelemahan teori behavioristik bila diterapkan dalam pembelajaran.

PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK

Penataan lingkungan belajar, haruslah dimaksudkan agar siswa mudah belajar, dengan melibatkan siswa sebagai subyek belajar. Dengan demikian, terkandung pemikiran pembaharuan bagaimana memperlakukan siswa sebagai subjek belajar bukan obyek belajar.

Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada siswa untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong siswa untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar, sehingga akan memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. Itulah sebabnya mengapa, setiap siswa perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya.

Prakarsa siswa untuk belajar ( the will to learn ) akan mati, bila kepadanya dihadapkan pada berbagai macam aturan yang tidak ada kaitannya dengan belajar. Banyaknya aturan yang sering kali dibuat oleh pengajar dan harus ditaati oleh siswa akan menyebabkan siswa selalu diliputi rasa takut. Lebih jauh lagi, siswa kehilangan kebebasan berbuat dan kehilangan kontrol diri.

Disamping " kebebasan ", hal penting yang juga membangkitkan ‘ the will to learn ‘, adalah ‘realness’; sadar siswa mempunyai kekuatan disamping kelemahan, mempunyai keberanian disamping rasa takut dan rasa cemas, bisa marah disamping juga gembira. Lingkungan belajar yang " bebas " dan didasari dengan ‘ realness ‘, dapat menumbuhkan sikap dan persepsi yang positif terhadap belajar. Ketiga hal ini ( kebebasan, ‘realness’, dan sikap serta persepsi yang positif terhadap belajar ) menjadi modal dasar untuk memunculkan prakarsa belajar.

INDIKATOR KEBERHASILAN SISWA

Kesejahteraan siswa mestinya diangkat menjadi indikator keberhasilan pendidikan/pembelajaran di sekolah. Asumsi-asumsi yang perlu dipatok sebagai landasan pengembangan konsep pemberdayaan belajar siswa, yang juga pada gilirannya menjadi landasan praktek pendidikan di sekolah di era demokratisasi, adalah :

  • siswa adalah makhluk yang bebas membentuk dirinya sendiri
  • siswa adalah makhluk yang bermartabat
  • siswa mampu mengontrol dirinya sendiri
  • siswa adalah mahklhuk dengan karakteristiknya yang khas.

REVOLUSI PROSES PEMBELAJARAN TANPA RESIKO BIAYA

Merevolusi proses pembelajaran di kelas tanpa resiko biaya ? Mana mungkin ! Menurut ‘Quantum Teaching’, pola "memanusiakan" siswa, menjadi perhatian yang penting dengan mengimplementasikan bahasa cinta :

  • 6 (enam) kata penting : Saya Mengakui Telah Melakukan Kesalahan Besar .

Jika permasalahan dikemas dengan kalimat ini, maka pihak-pihak yang berselisih akan ‘ cooling down ‘.

  • 5 (lima) kata penting : Anda Melakukan Pekerjaan Dengan Baik.

Pujilah anak-anak dengan kalimat ini, tentu mereka serasa mendapat tambahan energi, energi cahaya ‘Quantum Teaching’.

  • 4 (empat) kata penting : Bagaimana Menurut Pendapat Anda ?

Pelibatan mereka akan membawa implikasi yang sangat luas karena terkandung pemikiran reformasi tentang bagaimana memperlakukan siswa.

  • 3(tiga) kata penting : Jika Anda Berkenan.
  • 2 (dua) kata penting : Terima Kasih.

Bukankah buah pendidikan yang paling baik adalah mengucapkan terima kasih ?

  • 1 (satu) kata penting : Kita

Jika murid tidak bisa mengerjakan soal; " Okey , itu persoalan kita … ". Bukannya :

" Itu kan tugasmu … "!

  • 1 (satu) kata paling tidak penting : Saya.
  • 1( satu) kata terburuk : Jangan. Dilarang. Harus. Awas !
  • 1 (satu) kata terindah : Silahkan.

Akan lain maknanya jika guru mengatakan : " Anak-anak , silahkan bukunya di buka …", daripada :" Bukunya dibuka …! ".

Bukankah mengimplementasikan bahasa cinta diatas tanpa biaya ?

Selanjutnya, kita tinggal menunggu saja, buah pendidikan ‘Quantum Teaching’. Bagaimana pendapat anda ?

Kembali
View : 692
Comment : 0
RatingRatingRatingRatingRating
 

Nama
Email
Komentar

Perhatian :
Administrator berhak untuk menghapus komentar yang tidak pantas untuk ditampilkan.

Redaksi menerima berbagai artikel bertema apa saja untuk dapat dipublish di web ini. Silahkan materi anda ke email redaksi@smasemengresik.sch.id. Redaksi berhak menyeleksi profil yg masuk dan akan ditampilkan.

Webmail Login

Email ini diperuntukkan untuk warga SMA Semen Gresik. Untuk pendaftaran silahkan hubungi administrator. Klik disini untuk masuk ke webmail

Kegiatan Bulan ini


Tidak ada kegiatan untuk bulan ini

 
Statistik Situs

Pengunjung Hari Ini 74
Pengunjung Online 33
Total Pengunjung 66406
Update Terakhir 22.11.2017 08:50:59
Kontak
SMA Semen Gresik
Jl. Veteran 150 Gresik - Jawa Timur
Telp. / Fax (031) 3970934
http://www.smasemengresik.sch.id info@smasemengresik.sch.id
 





© Copyright 2010 - 2014 by SMA Semen Gresik. Developed by Inti Media Grafika™