Call Center : 08113382389

Siswa SMA SIG dan Mahasiswa Pendidikan Kimia UNESA Berkolaborasi Mengembangkan Sabun Cair SAPOCH?M Melalui Project-Based Learning

Program Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) merupakan program Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa program kependidikan untuk memperoleh pengalaman mengajar secara langsung di sekolah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa calon guru dapat mengembangkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian, sekaligus memahami lingkungan sekolah dari berbagai aspek.

Kegiatan PLP di SMA SIG melibatkan lima mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Kimia UNESA, yaitu Maqfiratul Diah Anggraini, Aisyah Lilia Ardani, Najibatun Najwa, Zahwa Asmalia Aizatin Nihla, dan Wahyu Maulidah Sholeha. Kegiatan ini dibimbing oleh Sholatul Chafidah, S.Pd., sebagai guru pamong kimia dan didampingi oleh Dr. Amiq Fikriyati, M.Pd., selaku dosen pembimbing.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa PLP menerapkan pembelajaran materi asam-basa (pH) menggunakan model Project-Based Learning (PjBL) di kelas X-1, X-2, X-3, X-4, dan XI-1 dengan jumlah 115 peserta didik. Melalui proyek pembuatan sabun cair, siswa diajak untuk memahami konsep kimia sekaligus mencari solusi atas permasalahan lingkungan, seperti dampak penggunaan sabun sintetis terhadap ekosistem perairan.

Pembelajaran dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari menentukan masalah, merencanakan proyek, menyusun jadwal, melaksanakan dan memantau kegiatan, hingga mempresentasikan hasil serta melakukan refleksi. Dengan cara ini, peserta didik tidak hanya memahami teori asam-basa, tetapi juga mengembangkan keterampilan proses sains dan kemampuan berpikir kritis.

Selama praktikum, peserta didik menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka bekerja dalam kelompok dan menggunakan berbagai jenis essential oil serta pewarna untuk menghasilkan sabun cair dengan karakteristik yang berbeda. Hasil setiap kelompok pun bervariasi. Ada yang berhasil membuat sabun dengan kualitas baik, sementara ada pula yang menghasilkan sabun yang lebih encer. Perbedaan tersebut mendorong peserta didik untuk berdiskusi dan mencari tahu faktor-faktor yang memengaruhi hasil percobaan.

Setelah pembuatan selesai, setiap kelompok melakukan uji pH untuk memastikan kualitas sabun cair yang dihasilkan. Hasil pengujian menunjukkan pH sabun berada pada kisaran 5–7, sesuai dengan karakteristik sabun cair yang aman digunakan dan dapat membantu menjaga kelembapan kulit. Melalui kegiatan ini, peserta didik belajar menghubungkan konsep kimia dengan kehidupan sehari-hari sekaligus memahami pentingnya pengendalian kualitas suatu produk.

Penerapan pembelajaran berbasis proyek SAPOCH?M memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi mahasiswa PLP dan peserta didik SMA SIG. Selain memperkuat pemahaman konsep kimia, kegiatan ini juga melatih keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi sebagai bagian dari keterampilan abad ke-21. Peserta didik juga diperkenalkan pada proses pembuatan produk yang bermanfaat dan memiliki potensi nilai ekonomi.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui peningkatan kesadaran hidup bersih dan sehat, SDG 6 (Clean Water and Sanitation) melalui edukasi tentang higiene dan sanitasi, serta SDG 4 (Quality Education) melalui pembelajaran yang aktif dan kontekstual. Produk sabun cair yang dihasilkan juga memberikan pengalaman kepada peserta didik tentang bagaimana ilmu kimia dapat diterapkan menjadi produk yang bernilai guna dan berpotensi bernilai ekonomi.

Kolaborasi antara mahasiswa PLP dan peserta didik dalam proyek SAPOCH?M menjadi wujud implementasi visi Program Studi S1 Pendidikan Kimia UNESA dalam mengembangkan pembelajaran kimia yang adaptif, inovatif, dan kolaboratif berbasis edu-ecopreneurship. Melalui kegiatan ini, peserta didik tidak hanya memperoleh pemahaman akademik, tetapi juga mengembangkan kreativitas dan jiwa kewirausahaan untuk menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan. ( Humas )


Berita Lainnya

Ki Hajar Dewantara

”Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”

( Di depan memberi contoh, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan )